Harusnya Ada Nama Gw, Kok Cowok Lain?

Kelas 2 SMA, untuk pertama kali saya menulis di secarik kertas daftar impian saya di masa depan. Waktu itu, saya tulis impian sampai lima tahun ke depan. Ini beberapa yang saya tulis:

  1. Lulus SMA, masuk Universitas Negeri lewat jalur SNMPTN – tujuannya membanggakan orangtua
  2. Bikin game Rising Force (RF) private server– tujuannya cari uang tambahan dan memang suka gaming
  3. Sukses jadi reseller Pizza Mini – waktu sekolah, saya jualan Pizza Mini di kantin sekolah dan warung-warung kecil (cari uang tambahan dan berharap jadi penghasilan tetap)
  4. Naik seluruh gunung di Indonesia – waktu SMA, saya suka naik gunung (bahkan, sampai bolos kuliah berhari-hari untuk naik gunung [hahaha])
  5. Buka toko gadget sambil review – kelas 2 SMA, Android masih sangat hangat dan baru diluncurkan, di sekolah saya sering jadi sumber untuk ditanya seputar Android.

Dari mimpi di secarik kertas daftar impian yang saya tulis, tidak ada yang tercapai. Hahaha. Kertasnya sudah dibuang dan saya move on…

… buat kertas impian baru.

Semester III kuliah, kertas impian baru selesai saya buat. Saya tidak akan tulis di sini semua isi kertasnya, cukup satu saja.

Di kertas ini, ada impian yang saya tulis dengan niat, rasa deg-degan, dan benar-benar matang. Ini yang saya tulis:

Aku kumpulin modal nikah sama Zahwa Khoerunnisa dan nikah umur 26.

Hahaha.

Sayangnya, sekarang umur saya masih 23 tahun… dan impian yang saya tulis diambang kegagalan.  Hari Sabtu, 8 September 2018 mendatang, nama yang saya tulis di daftar impian saya akan menikah.

Sayangnya lagi, bukan dengan saya. Dengan orang lain.

Lagi-lagi, saya harus move on…

… satu impian di kertas yang saya tulis gagal. Masih ada sederet lainnya yang sekarang mulai tercapai dan sedang saya jalankan.

Ini Bentuk Kertas Impian Saya (Sensor Demi Keamanan)

kertas impian

Foto baru saya ambil – kertas sudah mulai rapuh termakan usia.

Impian yang saya tulis cukup panjang daftarnya. Kebanyakan yang saya tulis di kertas itu adalah apa yang sekarang saya jalankan. Intinya, semua baik dan positif.

Kenapa menulis kertas daftar impian?

Kenapa tidak fokus menjalankan yang ada dan mengikuti alur kehidupan (halah)?

Menurut saya harus. Setidaknya, ini yang menggerakkan saya dan jadi punya tujuan untuk beberapa tahun ke depan. Beberapa memang terkesan tidak realistis. Ya itulah mengapa disebut impian… kalau tidak ada batasan sama sekali, kenapa harus membatasi?

Apa Rasanya Ditinggal Nikah?

Saya kasih dalam bentuk dua jawaban; formal dan non-formal. Jawaban ini adalah kalimat yang keluar waktu saya lihat undangan pernikahannya, ya.

Formal:

Alhamdulillah. Akhirnya Tuhan cepat menurunkan jodoh.

Non-formal:

Kok gini? Harusnya ada nama gw, kok cowok lain?

>